Minggu, 06 November 2011

Keburukan System Demokrasi

Oleh : Abu Zahra
Kusnanto bin Kusnun
bin Abdul Hamid
1. Pendukun
sedikit
&
Penentan
Banyak
2. Semua
rakyat
disuruh
memilih
pemimpin
termasukl
orang tua
yang
sudah
uzur,
orang
buta,
orang
jahil,
orang
jahat,
perempua
&
orang-
orang
yang
tidak
tahu-
menahu
mengenai
pemimpin
&
kepemimpi
Orang-orang
seperti itu
turut
menentukan
corak
kepemimpinan
negara. Saya
yakin, di
sebagian
negara (yang
tidak
berpendidikan)
95% dari
pemilih yang
memilih itu
tidak tahu-
menahu
tentang dasar
pemerintahan
partai yang
didukungnya.
Apakah
keputusan
mereka
menjamin
kebaikan
dalam
pemerintahan?
Kalaulah satu
partai itu
menang hasil
dukungan
orang-orang
jahil itu,
apakah partai
itu dapat
berbangga?
Padahal yang
menentangnya
adalah dari
kalangan
cerdik pandai
yang dapat
menilai
sekalipun
jumlahnya
minoritas.
3. Hari ini
bermacam-
macam
golongan
manusia yang
turut memilih.
Golongan
peniaga,
petani, buruh,
nelayan,
cendekiawan,
budayawan,
seniman, artis,
olah ragawan,
pegawai-
pegawai &
lain-lain yang
datangnya
dari berbagai
bangsa &
kaum
minoritas.
Masing-masing
golongan
mempunyai
niat masing-
masing.
Mereka
memilih satu
partai bukan
karena
menyokong
dasar partai
itu. Tetapi
karena
marah
pada
partai
lawan
.
4. “Orang baik,
tidak pernah
mencalonkan
diri. Kenaikan
mereka adalah
karena
ditonjolkan
oleh orang lain
melalui cara
yang bersih”.
Yaitu melalui
ahlul halli wal
‘aqdi. Lagi pula
mana boleh
orang-orang
baik yang
menang kalau
mayoritas
rakyat yang
memilih jahat-
jahat belaka?
5. Syarat-syarat
untuk menjadi
pemimpin cuma
dinilai pada
pandai
berkampanye,
pandai
berbicara &
pandai
membicarakan
kejelekan
orang lain
saja.
Sedangkan
memimpin itu
bukannya
untuk
berbicara atau
mengejek
orang saja.
( Definisi
Pemimpin
terlampir)
6. Bila orang itu
mencalonkan
diri untuk
menjadi
pemimpin
sementara
rakyat belum
yakin dengan
kebolehannya,
karena belum
terbukti
bahwa ia
adalah
pemimpin,
maka ia mesti
berlakon
menjadi
pemimpin. Ia
akan
mengangkat-
angkat diri
dan membuat
janji-janji
manis yang
tidak ada
jaminan untuk
dilaksanakan.
Ia juga mesti
menghina
pihak lawan
yang
menentang
pencalonannya.
Karena takut
kalah, demi
mendapatkan
suara, kerja-
kerja
kampanye &
membeli suara
terpaksa
dilakukan.
Perebutan
sengit itu
tidak mungkin
selamat dari
riya’, ujub,
sombong,
benci, dendam,
marah, tipu,
berpura-pura,
hasad dengki,
menyebut-
nyebut janji
muluk yang
palsu dan
mazmumah
lain. Ia juga
akan
memfitnah,
mencerca,
mengejek &
lain-
lain.Alangkah
kotornya jalan
itu. Alangkah
bahaya &
jahatnya.
Orang Barat
pun mengakui
dengan
ungkapan
Politic is a
dirty game.
Yang kalah
akan merasa
terhina &
yang menang
membusung
dada. Rasa
sengketa
tidak akan
terkikis dari
jiwa-jiwa
mereka.
Kepemimpinan
seperti itu
mustahil akan
dapat
mewujudkan
perpaduan
yang murni
& kerja
sama yang
baik.
Sepanjang
masa,
pemimpin akan
merasakan
pimpinannya
senantiasa
ditentang &
kedudukannya
terancam. Lalu
dia akan
senantiasa
mencari jalan
untuk
mempertahank
kedudukan.
Tugas
kepemimpinan
sudah menjadi
barang yang
diperebutkan
untuk
kepentingan
pribadi &
duniawi
semata-mata.
7. Untuk
mempertahank
kursi yang
dibeli tadi,
pemimpin juga
sanggup
membuat apa
saja sekalipun
menindas,
menipu,
mengancam
&
menghukum.
Pihak lawan
akan
dianaktirikan
dan
pendukung
terpaksa
dijaga hatinya.
Kehendak
pendukung
mesti
ditunaikan
sekalipun hati
nurani tidak
setuju. Artinya
rakyat yang
menentukan
corak
pemerintahan.
Pemimpin ikut
saja. Pemimpin
dididik oleh
rakyat.
Maklumlah dia
wakil rakyat
& bukan
wakil ALLAH.
8. Pemerintah
yang naik
melalui suatu
partai politik
pasti tidak
selamat dari
sentimen
kepartaian.
Yakni akan
mengutamakan
orang-orang
partainya
dengan
menganaktirika
rakyat yang
lain, yang
tidak separtai
dengannya.
Sudah tentu
golongan-
golongan lain
tidak puas.
Keadilan &
perpaduan
sebenarnya
tidak dapat
ditegakkan
selama-
lamanya.Hal ini
terbukti dalam
pengalaman
kita yang
sudah sekian
lama hidup
dalam negara
yang
mengamalkan
demokrasi
Barat ini.
Partai
pemerintah
belum terbukti
dapat
membuat
semua atau
mayoritas
rakyat
mengakui &
membantu
dasar yang
diperjuangkan.
Sedangkan
dalam
pemerintahan
Islam, orang
bukan Islam
pun terima
& bekerja
sama
menjayakan
kemajuan.
9. Biasanya
pemimpin atau
pemerintah
yang ditunjuk
oleh jari ini,
mereka tidak
dicintai dengan
kasih murni
dari hati. Kasih
rakyat pada
mereka
kalaupun ada
adalah karena
kepentingan-
kepentingan
jabatan, gaji
atau subsidi
yang
diharapkan.
Ketaatan yang
diberikan,
hanya di
depannya saja.
Sedangkan di
belakang
mereka,
rakyat menipu
&
durhaka.Sebab
itu pemimpin
tersebut,
kalau berbuat
salah
walaupun
secara tidak
sengaja
mereka akan
dicaci maki
&
dijatuhkan.
Rakyat mudah
melupakannya
apalagi kalau
sudah tidak
berkuasa.
Baru saja
pensiun, hidup
mereka
sudah
terbuang,
tersisih &
terhina. Bila
mereka mati
langsung
dilupakan
orang.
Maqamnya
tidak diziarahi.
Padahal
pemimpin-
pemimpin Islam,
maqamnya
diziarahi
walaupun
sudah beribu
tahun. Kalau
seperti itulah
demokrasi
Barat, untuk
apa lagi
dipertahankan
&
diperjuangkan?
Kalau sudah
nyata kotor,
buruk &
jahat,
mengapa
diikuti?
Tidakkah yang
menerimanya
itu artinya
memiliki sifat
yang sama
juga?
10. Satu lagi
keburukan
demokrasi
adalah
memungkinkan
dilantiknya
musuh untuk
menjadi
pemimpin.
Yakni musuh
melobi untuk
menjadi calon.
Karena
pandainya
berkampanye,
dia menang
untuk menjadi
pemimpin
kepada rakyat
11. Di satu
kawasan yang
mayoritas
orangnya
jahat, maka
wakil yang
naik atas
suara
mayoritas itu
pun biasanya
orang jahat,kalaupun ada yg baik pasti mereka kalah.

Update New trik Xl 7 Nov 2011

Barusan browsing . . .
Eh,kbtlan dpt trik maknyuzzz dari blog tetangga sebelah..
Langsung aja bro,neh
trik gretongan dari xl

Apn: xlgprs
proxy: 208.77.23.4
port : 80

NB: udah d test luancar plonxx...

Referensi : www.Ngajakribut.com

Selasa, 01 November 2011

Mencari Ketenangan Hati

Mencari
Ketenangan
Hati
Belakangan ini
mendung selalu
menghampiri puncak
ubun-ubunku.
Mendung dalam
artian hati terasa
kelabu bagaikan
diselimuti awan hitam.
Perasaan galau
datang menghujam
setiap saat. Tiada
lagi kebahagian yang
selama ini diimpikan.
Bahagia adalah
persoalan hati dan
sudut pandang diri.
Seperti apa rasa
bahagia itu? Tak
pernah aku jumpai,
terutama belakangan
ini.
Bukannya aku tidak
mensyukuri nikmat
yang telah aku
terima selama ini.
Bukannya aku
bermaksud untuk
mengeluh. Itu semua
tidak ada dalam
kamus hidupku. Meski
terkadang sifat
mengeluh dan tidak
bersyukur itu
sesekali mengahampiri
diriku. Aku tetap
menanamkan bahwa
tidak ada kata
mengeluh dan tidak
bersyukur.
Sepertinya
kegelisahan yang
terasa akhir-akhir ini
bukan karena dua
hal tersebut.
Nampaknya ada
beban yang tidak
sanggup ditopang
oleh jiwa dan
pikiranku. Masalah
demi masalah datang
silih berganti.
Aku tidak ingin orang
lain terbeban pula
dengan masalah-
masalah yang aku
alami. Aku coba
untuk memendam
sendiri, tanpa ada
keinginan untuk
berbagi. Biarlah aku
sendiri yang
menanggung beban
hidupku ini.
Disamping itu, ada
sebuah kenyataan
yang sangat sulit
aku terima.
Kenyataan yang
sesungguhnya tidak
dapat aku elakan.
Mungkin hidup ini
penuh dengan takdir
yang tidak bisa
diingkari. Semakin
mencoba untuk lari
dari takdir, semakin
pelik menjalani
kehidupan ini.
Sebagian orang
mersepon takdir
dengan prinsip hidup
seperti air mengalir.
Sebagian lagi tidak
terima begitu saja,
sebab ada komponen
yang dapat
menentukan, yakni
akal. Melalui akal
hidup dijalani dengan
logika. Berbanding
terbalik dengan
prinsip kepasrahan
yang menerima apa
adanya.
Mungkinkah aku saat
ini berada diantara
dua kelompok
tersebut. Disatu sisi
aku mencoba untuk
berdamai dengan
takdir. Disisi lain ada
dorongan untuk
memutarbalikan
takdir, walau itu
terlihat mustahil.
Pikiran mulai tak
sanggup lagi melawan
kenyataan yang
terjadi. Jiwa semakin
terombang ambing
tak tahu arah.
Ohhh.. Tuhan Yang
Maha Esa, berilah
ketenangan pada
hatiku ini…